Saturday, August 22, 2009

I Thought I Was


I thought I was strong ..
When I tried to retie those knots

I thought I was brave ..
For the first time I opened the pages and looked at those pictures

Unfortunately I wasn't ..
I realized it as I still felt hurt deep inside
I recognized it as I felt blue looking those smiles
I admitted it as I saw a deep scratch remained in here

And here I am ..
Busy untying the knots ..
In order not to see those pictures again,
To erase those snapshot of smiles,
To rebuild this crack inside
For which only remind me...
How weak I am


Jakarta, in the mid of first Ramadhan

Note: Picture was taken from here.

Monday, July 27, 2009

Pak Tasiran


Gambar bukan hasil jepretan saya sendiri, tapi diambil dari sini.

Melintasi lajur tol Bintaro - BSD, sempat kulihat bentangan sawah itu. Berada disisi kiri jalan tol, sawah itu nampak kuning mengemas, siap untuk dipanen saat tiba masanya. Sejak pertama kali melihatnya, aku sudah bertekad untuk pergi kesana suatu hari nanti. Maklum, jarang-jarang bisa pergi dan melihat sawah di tengah rimba ibukota yang semakin padat ini.

Dan akhirnya, keinginan itu terwujud Sabtu pagi kemarin. Dengan semangat kukayuh sepeda merah jambuku bersama si kecil yang dengan setia berpegang erat di pinggang, menuju hamparan pematang yang semakin menguning. Suami juga terlihat mengayuh sepedanya sendiri dengan sepenuh energi.

Ternyata medan menuju kesana tidaklah mudah. Banyak tanjakan dan turunan yang harus kami lalui. Fyuhh.. namun akhirnya kami sampai juga. Sepeda terpaksa kami parkir di tempat yang agak jauh, mengingat jalan setapak menuju sawah terlalu curam untuk dilewati sebuah sepeda. Pematang yang becek menyambut kami, membuat sandal dan sepatu terasa menebal oleh lumpur yang melekat. Kawanan burung terbang, sepertinya terganggu dengan kedatangan kami. Di kiri kanan, jajaran rapi tanaman kacang tumbuh dengan suburnya. Di depan, nampak rimbunan pohon semak belukar yang tumbuh dengan lebat, menutup pandangan kami ke sawah tujuan kami.

Dan akhirnya, di balik rimbunan semak, kami telah sampai pada apa yang telah kami niatkan sejak awal. Nampak hamparan luas rumpun padi terbentang di hadapan kami. Subhanallah, indah sekali. Warna keemasan merajai pandangan, diselingi hijau daun tumpang sari yang tumbuh di sela-sela. Kicau burung riuh bersautan, berebut bulir-bulir padi yang nampak bernas.

Di kejauhan, terlihat dua ibu yang tengah sibuk merontokan padi dan menampungnya di atas bentangan karung goni. Nampak pula bapak tani menjalin tali temali yang menghubungkannya dengan beberapa orang-orangan yang tersebar di seluruh penjuru sawah. Sungguh, bukan sebuah pemandangan biasa.

Putriku dengan semangat ikut membantu pak tani menghela tali, mengusir kawanan burung lapar yang selalu siap mematuk butiran beras yang telah siap panen itu. Sambil menunggu, kusempatkan duduk di bangku bambu tempat pak tani bekerja, sembari bercakap dengan beliau. Pak Tasiran namanya, berasal dari daerah Batu, Malang. Tinggal di daerah Kampung Sawah dan bertani disitu sejak 1959. Hmmm...bukan waktu yang sebentar, pikirku. Kutanya pula kepada beliau mengenai status kepemilikan lahan, dengan jawaban yang sudah dapat kutebak dari awal: bahwa lahan dimana sawah tempat beliau bertani tersebut milik salah satu pengembang besar di wilayah Bintaro. Justru jawabannya akan mengherankan apabila lahan tersebut adalah milik beliau seorang, mengingat nilai tanah yang menyentuh enam digit per meter perseginya menjadi sangat berarti jika dibandingkan dengan hasil panen per tahunnya.

Alhamdulillah, banyak pelajaran yang dapat kami petik dari kunjungan ini. Pak Tasiran, dengan segenap kesederhanaan dan ketekunannya mampu mengetuk hati kami bertiga. Tubuh rentanya tidak mampu menyembunyikan semangat beliau untuk terus berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya, ditengah segala kesulitan yang dia hadapi. Namun diantara semua kesulitan yang ada, beliau tetap tersenyum. Dengan sabar, dia jawab semua pertanyaan kami. Tiga prinsip yang selalu beliau pegang: sabar, ikhtiar, dan jembar. Sabar untuk semua ujian yang harus dihadapi, berikhtiar untuk hasil yang terbaik, dan jembar dalam menyikapi semua permasalahan (luas - mungkin lebih tepat apabila diartikan untuk selalu berpikir positif). Pak Tasiran, hatimu mungkin terbuat dari emas, seemas lautan padi yang setiap hari engkau kelola.

Jakarta, medio 28 Juli 2009.

Tuesday, December 23, 2008

Komunitas Mata Air

Musim hujan telah tiba. Mata air di depan rumah mulai mengeluarkan tetesan air setelah sekian lama kering akibat musim kemarau. Perlahan, genangan air mulai terbentuk seiring dengan semakin derasnya air yang mengalir. Dan satu persatu, binatang-binatang kecil mulai menampakkan dirinya, meramaikan komunitas mata air yang hanya muncul di musim hujan.

Pandangan pertama jatuh kepada yuyu, sejenis kepiting kecil yang biasa hidup di air tawar. Mereka terlihat bercanda menikmati beningnya air. Ketika bayanganku mendekat, dengan gesit mereka bersembunyi ke lubang sarang yang tersebar di sepanjang mata air.

Ikan-ikan kecil terlihat pula meramaikan biota kecil tersebut. Berenang-renang dengan lincah, mencari sela diantara yuyu-yuyu kecil yang sibuk menggali sarang baru.

Capung jarum merendah dan hinggap di permukaan air. Mungkin sekedar melepas lelah dan haus setelah berkejaran di padang ilalang yang terbentang dekat mata air. Capung merah merona menyala juga tampak hadir di ilalang. Sinar matahari yang mulai menyengat sepertinya tidak menyurutkan keceriaan mereka.

Komunitas mata air, sebuah komunitas yang mungkin sudah sangat jarang bisa ditemui di ibukota yang padat penuh ini.Komunitas yang mungkin akan menghilang seiring dengan bermunculannya perumahan-perumahan baru di lingkungan tempat aku tinggal. Yah, namun setidaknya saat ini aku masih bisa menikmatinya, menjadi saksi hidup bahwa di depan rumahku pernah tinggal kawanan yuyu kecil yang hidup dengan bebas. Entah hingga kapan mereka sanggup bertahan dan menampakkan dirinya di musim penghujan dan bergabung dengan kawanan yang lain, membentuk sebuah komunitas yang terpinggirkan. Komunitas mata air.

Jakarta, 18 December 2008
Di penghujung tahun, menjelang libur panjang

Friday, November 21, 2008

No title

Apa yang kamu rasakan
Saat semua kondisi yang mengepung
Melilitmu hingga membuat rongga dada terasa penuh
Sesak

Apa yang kamu lakukan
Saat semua kewajiban telah engkau tunaikan
Tapi segala hak terabaikan

Apa yang harus kamu lakukan
Saat sosok-sosok di sekeliling
Tak bisa menangkap apa yang kamu inginkan
Apa yang engkau harapkan
Apa yang engkau tanyakan

Bukankah semua reaksi timbul dari suatu aksi?
Tapi kenapa aksimu tidak menimbulkan reaksi dari orang-orang di sekitar?
Hanya tembok-tembok bisu yang engkau hadapi
Tanpa balas, tanpa riak

Dan kamu akan semakin tersesat
Saat memasuki labirin yang tanpa batas
Dengan tembok-tembok pembatas berupa orang-orang yang seharusnya memberikan petunjuk arah kepadamu
Tanpa ujung, hingga kamu harus kembali ke tempat kamu berawal
Berputar-putar dan makin tersesat
Dan hanya satu pertanyaan yang muncul di kepala: kemana dan kapan labirin ini akan berakhir?



Jakarta, 21 November 2008
Hanya melepas kepenatan di tempat kerja dengan tanpa pola kerja

Monday, May 12, 2008

Berita dari Kampung Halaman

Pesan pendek dari kakakku mengetuk jantungku, menggoyangnya keras. Denyut nadiku mendadak berubah menjadi cepat, napas terasa memburu, membutakan segala logika yang seharusnya hadir saat itu. "Bapak masuk ICU, nik. Jantungnya kambuh," demikian pesan yang kuterima dari kakakku, di tengah lecture salah satu mata kuliah ekonomi Jumat siang lalu.

Ya, memang sudah beberapa tahun belakangan ini bapak menderita sakit jantung. Pembesaran jantung lebih tepatnya. Jantung yang membesar tersebut memerlukan rongga lebih, mendesak paru-paru yang terletak berdekatan, sehingga nafas bapak seringkali menjadi sesak. Akibatnya, puluhan butir obat harus dikonsumsi setiap harinya, untuk mencegah si jantung mengalami pembesaran lebih lanjut.

Mataku menerawang jauh. Terlempar pada kenangan puluhan tahun yang lalu, disaat aku masih berumur kurang lebih tiga tahun. Saat itu, bapak yang mengabdi sebagai pegawai negeri, menjalankan dinas di kota Solo. Sementara istri dan tujuh anak-anaknya masih tinggal di Pati, sebuah kota di ujung utara Jawa Tengah.

Saat itu, kami sedang bermain di seberang sungai di depan rumah. Bapak terlihat dari jauh, sepulang tugas beliau di kota Solo. Beliau berjalan ke arah kami sambil membawa bungkusan yang saya tahu adalah oleh-oleh buat anak-anaknya. Segera kusambut bungkusan tersebut. Dan mataku terbelalak, terpana pada warna-warni bungkusan es Jollie di dalamnya. Saat itu, produk es Jollie sedang populer dan iklannya sering kami lihat di tayangan televisi. "Jollie, jollie, jollie, sehat dan berseri...untuk setiap hari.." begitu kira-kira bunyi jingle iklan es tersebut di TV. Dan saat itu, rasanya sungguh tak percaya bahwa produk tersebut sudah ada dalam genggaman tangan. Terlihat begitu segar, di tengah panas terik kota pesisir yang kami tinggali.

Dan saat ini, bapak sedang lemah tak berdaya. Terbaring di rumah sakit, lengkap dengan alat perekam detak jantung disampingnya. Bapakku yang dulu terlihat gagah, kuat, dengan kumis melintang yang selalu membuatku takut untuk dicium. Bapak, ananda sebentar lagi pulang. Dua setengah bulan lagi. Tumbuhkan semangat dalam dirimu.. tegarkan bahumu. Agar tumbuh asa yang tersisa dalam hati ini,untuk mencium tanganmu. Menikmati gurauanmu. Memeluk hangat kokoh badanmu. Tunggu aku, bapak...